Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /var/www/blog/wp-includes/post-template.php on line 284

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /var/www/blog/wp-includes/post-template.php on line 284

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /var/www/blog/wp-includes/post-template.php on line 284

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /var/www/blog/wp-includes/post-template.php on line 284

Studentpreneur | Media Bisnis | Ide Bisnis | Bisnis Anak Muda

Best People Inovator

Profil Pendiri Brand ESPN, Bill Rasmussen


Sebelum membangun ESPN, Bill Rasmussen sempat menjadi anggota militer, sport director, hingga communications director di dunia pertelevisian.

Nama Bill Rasmussen mungkin hanya dikenang sebagai pendiri ESPN dan sebagai presiden ESPN pertama. Setelah itu, nasib Bill sangat miris, 2 tahun setelah mendirikan ESPN dirinya didepak dari jajaran direksi. Didirikan Bill Rasmussen tahun 1978 bersama dua temannya Eagan Bob Beyus, Bill langsung keluar dari ESPN pada tahun 1980.

ESPN yang kepanjangan dari Entertainment and Sports Programming Networks merupakan jaringan televisi olahraga terbesar di Amerika Serikat, bahkan di dunia. Pada tahun 2015 kemarin, 80% orang Amerika Serikat ini berlangganan ESPN. Kemudian pada tahun 2017, survey dari Nielsen mengatakan sudah ada 90 juta orang yang berlangganan ESPN di seluruh dunia.

Sekarang kita akan mencoba membahas kisah sedih Bill Rasmussen. Bill merupakan pria kelahiran Chicago yang semasa hidupnya sudah mengalami pasang surut dalam urusan karir. Siapa sangka, sebelum mendirikan ESPN, beberapa kali karir Bill Rasmussen ini juga kandas.

 

Kisah Sedih Bill Rasmussen

Bill Rasmussen sebenarnya mempunyai pendidikan yang lumayan. Ketika lulus dari DePauw University, Indiana, Bill Rasmussen memutuskan untuk mengabdi kepada militer Amerika Serikat. Wajar pada saat itu perang dunia 2 sedang berkecamuk dan Amerika Serikat tidak sedikit mengirimkan bala tentaranya. Rasmussen akhirnya ikut US Air Force dan mengendarai beberapa pesawat tempur untuk berperang.

Pada saat dinas di militer, Rasmussen bertemu istrinya dan akhirnya mereka menikah. Setelah dikaruniai anak, Rasmussen diberhentikan dengan hormat. Akhirnya Rasmussen harus meniti kari dari awal. Pilihannya jatuh kepada pertelevisian. Pada tahun 1963, Rasmussen bekerja sebagai sports director di WTTT, salah satu media televisi di Massachusetss.

Delapan tahun sebagai sports director membawa Rasmussen diangkat menjadi bagian communications director di New England Whalers, tim hoki profesional di Connecticut pada tahun 1974. Sayang pada tahun 1978 Rasmussen harus rela meninggalkan pekerjaannya setelah ada masalah dalam federasi hoki di Amerika Serikat. Ketika menganggur tersebut, Bill Rasmussen memiliki ide cemerlang yang kemudian menelurkan ESPN.

 

Membangun ESPN

Photo credit: commons.wikimedia.org

Pada tahun 1970an, di Amerika Serikat hanya beberapa saja yang menayangkan program olahraga. Kalaupun ada, pasti tidak ada channel televisi yang fokus dalam urusan olahraga. Rasmussen yang tinggal di Connecticut menyadari hal tersebut dan ingin membuat sebuah televisi yang isinya khusus olahraga. Di Connecticut ketika itu ada dua tim olahraga besar yaitu Bristol Red Sox dan Connecticut Huskies.

Bersama Eagan dan Bob Beyus, Rasmussen membuat konsep televisi olahraga dengan nama Entertainment and Sports Programming Network di tahun 1978. Tidak sekedar channel televisi biasa, nantinya ESPN ini bisa dilihat oleh semua orang di Amerika Serikat dengan cara berbayar. Tetapi fokus dari Rasmussen masih jaringan lokal terlebih dahulu.

Karena mereka tidak mempunyai channel televisi lokal, mereka melakukan pitching ke 12 televisi lokal di Connecticut. Dari 12 televisi lokal, hanya 5 orang yang tertarik. Akhirnya Rasmussen berani untuk membuka channel televisi olahraga lokal.

Pada akhir 1978, ide Rasmussen ini didengar beberapa investor. Salah satu investor mengatakan bahwa konsep dari Rasmussen ini sangat menarik dan mereka ingin menggelontorkan sejumlah uang di sana. Tepatnya bulan Agustus, dengan hanya 30 ribu dolar, Rasmussen memutuskan untuk membuat ESPN mengudara.

Setelah konsep matang, masalah datang. Beberapa investor yang sangat tertarik dengan konsep Rasmussen ini ternyata benar-benar serius. Mereka ingin ESPN dapat menjadi channel televisi nomor 1 di Amerika Serikat. Sang investor yaitu J B Doherty dan K S Sweet Associates mengatakan bahwa ESPN harus bisa mengambil hak siar dari NCAA, turnamen olahraga antara kampus terbesar di Amerika Serikat.

Rasmussen bergeming, dirinya pesimis bahwa ESPN yang belum mengudara ini sukses mendapatkan hak siar. Dari sini, para investor langsung sedikit kurang percaya dengan Rasmussen. Akhirnya ESPN mendapatkan hak siar dari NCAA tanpa bantuan dari Rasmussen.

ESPN sendiri pertama kali tayang pada tanggal 7 September 1978 dengan jumlah penonton mencapai 30 ribu. Bill Rasmussen ketika itu menjadi presiden EPSN yang pertama kali. Tidak lama setelah launching, perusahaan Getty Oil langsung membeli 85% saham dari ESPN. Tetapi bukannya mendapatkan dukungan dari investor, Bill Rasmussen ternyata dimusuhi oleh investor.

Pada tahun 1984, saham Rasmussen dibeli semua oleh sang investor. Karir Rasmussen akhirnya berhenti di ESPN. Hanya 5 tahun, itulah usia Rasmussen membesarkan ESPN. Apakah Rasmussen sukses? Tentu jelas, konsep awal Rasmussen dengan mempunyai channel televisi olahraga langsung ditiru oleh banyak negara. Bahkan sekarang televisi olahraga menjadi salah satu ladang bisnis yang sangat besar di dunia.

 

Yuk follow facebook Studentpreneur dan ikutan kelas online-nya buat belajar bisnis lebih lanjut.

 

Rekomendasi Kelas Online Studentpreneur Gratis Untuk Anda:

Indonesian Independence in a Digital Economy

Dunia Investasi Startup di Tahun 2017

Kematian Desain Grafis

 

Dior Asning Kosyu

Bercita-cita menjadi pemain basket, kini Dior berubah profesi menjadi jurnalis yang ingin memperbaiki Indonesia melalui tulisannya.

Facebook Twitter Google+