Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /var/www/blog/wp-includes/post-template.php on line 284

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /var/www/blog/wp-includes/post-template.php on line 284

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /var/www/blog/wp-includes/post-template.php on line 284

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /var/www/blog/wp-includes/post-template.php on line 284

Studentpreneur | Media Bisnis | Ide Bisnis | Bisnis Anak Muda

Best People Motivasi

Belajar Menjadi Entrepreneur dari Seorang Bule


Menjadi entrepreneur itu tidak mudah. Kamu harus mau belajar dari banyak orang, salah satunya adalah Todd D. Schweitzer, founder dan CEO Brankas.

Kata start-up mungkin sudah mulai familiar di telinga masyarakat Indonesia saat ini, tidak seperti dua atau tiga tahun yang lalu. Nama-nama seperti Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, atau Tiket.com merupakan beberapa contoh start-up yang berhasil mendapatkan pelanggan setianya masing-masing. Tidak heran jika akhirnya pemerintah bersama KIBAR dan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia sejak tahun lalu menginisiasi Gerakan Nasional 1000 start-up digital demi mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia di tahun 2020.

Start-up adalah suatu bisnis yang umumnya berbau teknologi, web, internet, atau yang berkaitan dengan ranah tersebut dan masih dalam tahap pengembangan. Usia perusahaan yang cenderung masih kurang dari tiga tahun dan belum memiliki kestabilan finansial membuat beberapa orang ragu untuk terjun dalam jagat start-up. Apalagi, bergabung dengan start-up membuatmu tidak memiliki jam kerja yang teratur karena banyaknya target yang harus dikejar, tidak memiliki gaji atau tunjangan yang terlalu besar karena harus memperketat pengeluaran, dan harus siap dengan tekanan peforma kerja. Akan sangat lumrah jadinya bila orangtua lebih mengharapkan anaknya bekerja di perusahaan besar dan terkenal, dibanding harus membangun start-up.

Uniknya, alasan-alasan tersebut tidak mengurungkan niat dua bule Amerika bernama Todd D. Schweitzer dan Kenneth Shaw untuk membangun Brankas, sebuah start-up teknologi jasa finansial yang bertujuan untuk membantu individu maupun bisnis mengelola keuangan mereka dengan lebih baik. Usia Brankas memang bisa dikatakan masih sangat bayi, baru sekitar satu tahun berdiri dan beberapa bulan beroperasi, namun mengobrol dengan salah satu founder-nya akan memberikan kamu banyak pelajaran mengenai serunya hidup sebagai entrepreneur. Apa saja pelajarannya? Berikut hasil ngobrol santai tim Studentpreneur dengan Todd D. Schweitzer, CEO Brankas.

Todd D. Schweitzer. Photo credit: Brankas

 

Hai, Todd. Kalau dilihat dari penjelasan dari situs web Brankas, Brankas adalah sebuah aplikasi yang akan membantu kita untuk mengelola beberapa rekening bank yang kita punya, mengirim dan menerima uang secara langsung, memantau pembayaran offline, juga bisa membantu kita untuk membuat anggaran dan melacak pengeluaran dan pemasukan. Boleh tahu gak darimana ide ini berasal?

Ide untuk membangun Brankas datang dari pengalaman saya dan co-founder Brankas (Ken Shaw –red) yang pernah bekerja dan tinggal di Amerika Serikat. Disana, seorang nasabah bank tidak perlu dipaksa untuk menggunakan aplikasi mobile atau web banking ketika mereka mau mengelola rekening bank yang berbeda-beda. Hal tersebut berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Jika kamu mau mengakses akun BTN, Mandiri, BNI, kamu harus mengakses mobile apps yang berbeda-beda atau pergi ke cabang-cabang bank. Padahal, banyak orang Indonesia yang memiliki lebih dari satu akun bank.

Selain itu, proses verifikasi pembayaran seseorang yang membeli sesuatu dari toko online juga harus melalui jalur yang sangat panjang. Berdasar hal tersebut, mengambil contoh dari apa yang kami lihat di Amerika Serikat dan di Eropa, kami membuat sebuah solusi mobile banking yang mandiri dimana seseorang bisa mengelola semua akun bank yang mereka punya dalam satu tempat, dan mengirim atau menerima uang hanya dari satu aplikasi.

Brankas. Photo credit: Brankas

 

Dalam membangun start-up seperti Brankas dan berkarir menjadi seorang entrepreneur, adakah kesulitan yang harus kamu hadapi sebelumnya?

Bagian tersulit yang harus kamu hadapi ketika kamu membangun sebuah start-up baru dan menjadi seorang entrepreneur adalah ketika semua orang mengatakan tidak, setiap waktu.

Investor? Mereka bilang tidak. Orang-orang yang ingin kamu ajak untuk bergabung dengan tim kerja? Mereka bilang tidak karena ingin bekerja di tempat yang lebih terjamin. Calon-calon pelanggan? Mereka bilang tidak karena produk yang ditawarkan berasal dari perusahaan yang baru, beberapa orang lainnya bahkan mengatakan bahwa produk ini bukanlah ide yang bagus, Indonesia bukan pasar yang tepat, pergilah ke Filipina atau ke Singapura untuk hasil yang lebih baik. Iya, semua orang akan mengatakan tidak.

 

Lalu, apa yang membuatmu tetap bertahan dan melangkah maju?

Kamu harus percaya bahwa kamu melakukan sesuatu yang benar dan akan kamu cintai.

Saya berpikir bahwa orang-orang disini menginginkan pengalaman perbankan yang lebih baik. Mereka tidak harus mengantri di bank hanya untuk melakukan transaksi, menggunakan beberapa aplikasi yang berbeda untuk melakukan hal-hal yang berbeda, dan untuk e-commerce, mereka tidak harus melakukan banyak tahapan hanya untuk memverifikasi pembayaran. Saya melihat hal itu sebagai masalah, saya juga telah melihat bagaimana Amerika Serikat dan Eropa bisa menyelesaikan masalah itu dengan cara yang efektif, jadi walaupun semua orang mengatakan tidak dengan produk yang saya tawarkan, saya harus ingat bahwa sebenarnya produk ini dibutuhkan dan sudah ada orang di belahan dunia sana yang telah menggunakannya.

Jadi, sekali lagi, walaupun semua orang mengatakan tidak, kamu harus percaya bahwa apa yang kamu lakukan adalah sesuatu yang berharga.

 

Memangnya siapa sih yang menginspirasimu untuk terus percaya?

Komunitas start-up lainnya. Seperti yang kamu tahu, Brankas menjadi salah satu dari sebelas start-up yang lolos seleksi program akselerator Plug and Play Indonesia. Hal tersebut membawa saya bertemu dengan teman-teman start-up lainnya yang juga mengalami hal serupa. Mereka memang bukan di industri yang sama seperti Brankas, tetapi pengalaman penolakkan mereka mirip dengan kami. Oleh karena itu, mereka selalu mendukung kami dan membuat kami terus optimis.

 

Optimis sekali, kamu tidak takut dengan kegagalan?

Sesuatu akan menjadi sebuah kegagalan hanya ketika kamu berhenti dan menyerah, namun jika saya terus maju, itu bukanlah sesuatu kegagalan. Memang benar, ke depannya akan ada banyak sekali hambatan, rintangan, dan halangan, tetapi jika kamu tidak berhenti untuk melangkah, apa yang harus ditakuti dari kegagalan?

Brankas tidak berhasil mengumpulkan secepat yang kita mau, tetapi kita tetap melangkah. Akhirnya, dana bisa terkumpul. Kami tidak menemukan orang-orang yang tepat untuk bergabung dan menjadi tim Brankas, tetapi kita tetap melangkah. Akhirnya, saya mempunyai tim yang solid sekarang. Begitu juga yang saya lakukan ketika kami tidak menemukan investor atau pelanggan. Ketika dunia sekitar menakutimu dengan kegagalan yang membuatmu menyerah, tetapi buat saya tidak, saya tetap mau terus mencoba.

 

Apa sih definisi kesuksesan buatmu?

Buat saya, sukses adalah ketika kamu berhasil berdampak, baik secara internal maupun eksternal.

Jika Brankas berhasil diterima dan digunakan oleh masyarakat banyak, itu belum 100% sukses. Tetapi jika Brankas berhasil membuat real impact for people’s life, entah itu menghemat uang, waktu, membuat sesuatu menjadi lebih baik, belajar sesuatu yang baru, itulah kesuksesan.

Selain itu, saya juga berharap bisa berdampak secara eksternal melalui Brankas. Ingat apa yang saya katakan tentang ‘pengaruh terbaik sebuah start-up adalah start-up lainnya’? Saya ingin ketika start-upstart-up lainnya melihat bagaimana Brankas berjuang, bertahan, dan berhasil, mereka menjadi lebih berani untuk mengambil risiko dan tantangan ke depan. Ketika sudah begitu, berarti saya dan Brankas sudah sukses. Sebagai contoh, kamu tahu Snapchat kan? Buat saya, mereka adalah contoh kesuksesan. Bukan karena perusahaan tersebut sudah meng-global, tetapi karena Snapchat menginspirasi perusahaan lainnya untuk percaya bahwa sebagai start-up mereka juga bisa menjadi besar.

Tetapi yang tidak kalah penting, saya juga mau Brankas berdampak bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya. Saya mau Brankas bisa menjadi tempat dimana orang-orang belajar, berkembang, dan bertumbuh menjadi seorang profesional.

Itulah arti kesuksesan buat saya, ketika kamu bisa berdampak untuk orang-orang yang menggunakan produk bisnismu dan rekan timmu, juga ketika kamu bisa berdampak bagi start-upstart-up lainnya untuk tidak menyerah.

Team Brankas. Photo credit: Brankas

 

Todd, boleh gak kasih tau tiga hal yang harus dimiliki oleh orang yang baru mau mendirikan start-up dan menjadi seorang entrepreneur?

Pertama, kamu harus keras kepala. Karena sekali lagi saya katakan, kamu akan bertemu dengan orang-orang yang terus berkata tidak, dengan berbagai alasannya. Tetapi, kamu tidak boleh menyerah dengan itu. Kamu harus keras kepala dan menyakinkan diri sendiri bahwa idemu adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh banyak orang.

Kedua, kamu harus mau melakukan banyak pekerjaan. Pekerjaan saya saat ini, saya sebagai CEO, marketing, legal, HR, admin, produk operasional, semuanya. Jika di perusahaan besar pekerjaan tersebut terbagi dalam departemen-departemen yang berbeda, di start-up, kamu harus bisa melakukan semua pekerjaan tersebut. Bukan karena saya hebat, tetapi itu memang normal untuk dilakukan jika kamu mau membangun start-up.

Ketiga, kamu memang harus keras kepala, tetapi kamu juga perlu tetap rendah hati. Sebagai contoh, mungkin kamu memiliki ide yang bagus, tetapi mungkin saja bahwa ide itu belum sempurna. Oleh sebab itu, kamu harus rendah hati dan menerima banyak saran dari orang lain. Rendah hati adalah ketika kamu menyadari bahwa ide saya belum cukup sempurna, dan saya membutuhkan bantuan dari orang lain.

 

Pertanyaan penutup nih, ada gak favourite quote yang selalu melintas di pikiranmu dan menjadi kekuatan ketika kamu lagi down?

Saya pernah membaca sebuah buku start-up berjudul Hard Thing About Hard Things, ditulis oleh seorang entrepreneur yang sekarang menjadi seorang investor. Di bukunya, Ia berkata, “there is no silver bullet that’s going to fix that. No, we are going to have to use a lot of lead bullets.” Penulis buku ingin menyampaikan pada kita semua bahwa tidak ada jalan yang mudah, dan hanya ada jalan yang sulit. Jalan pintas hanya menjadi alasanmu untuk tidak bekerja keras.

Berbincang dengan Todd memang menyenangkan. Walaupun sebentar, Ia berhasil membuat kita untuk selalu percaya pada setiap mimpi dan apa yang sedang kita lakukan. Sobat Studentpreneur, jangan ragu lagi untuk menjadi seorang entrepreneur atau ingin membangun sebuah start-up ya! Jika Todd bisa, founder-founder start-up lain bisa, maka kamu pun bisa!

 

Yuk follow facebook Studentpreneur dan ikutan kelas online-nya buat belajar bisnis lebih lanjut.

 

Rekomendasi Kelas Online Studentpreneur Gratis Untuk Anda:

Indonesian Independence in a Digital Economy

Dunia Investasi Startup di Tahun 2017

Kematian Desain Grafis

 

Yovita Omega

Pernah berkarya di Pikiran Rakyat, kini Yovita aktif di digital agency di Jakarta.

Facebook